Categories
Biologi

Jaringan Ikat – Pengertian, Ciri-Ciri, Fungsi, Sel Penyusun, dan Jenis Jaringan Ikat dengan Penjelasannya

Jaringan ikat merupakan jaringan penyambung yang memiliki peran memberikan dan mempertahankan bentuk tubuh. Sebagai contoh organ dalam perut akan tetap berapa dalam posisinya dan tidak akan jatuh meskipun kita melompat, hal ini karena organ dalam perut dibungkus dengan jaringan ikat.

Jaringan ikat memiliki fungsi mekanis yang terdiri dari suatu matriks yang berfungsi menghubungkan dan mengikat sel dan organ yang nantinya dapat memberikan sokongan kepada tubuh. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang jaringan ikat, berikut ini kita akan membahas secara lengkap tentang jaringan ikat, meliputi pengertian jaringan ikat, ciri-ciri, fungsi, sel penyusun,dan jenis jaringan ikat dengan penjelasan terlengkap.

Baca Juga : Pengertian Saraf Sensorik

Pengertian Jaringan Ikat

Jaringan ikat adalah jaringan yang berfungsi mengikat dan menyokong bagian jaringan yang lain. Panyusun jaringan ikat adalah sel yang tersusun dari matriks ekstraseluler yang tersusun menyebar. Matriks tersebut berupa cairan, benda kenyal mirip agar dan padatan. Terdapat beberapa macam jaringan ikat seperti jaringan ikat longgar, jaringan adiposa, jaringan ikat berserat, darah, tulang rawan dan tulang sejati.

Jaringan ikat bertanggung jawab memberikan dan mempertahankan bentuk tubuh. Jaringan ikat memiliki fungsi mekanis yang terdiri dari matrik yang berfungsi menghubungkan dan mengikat sel dan organ yang akhirnya memberikan sokongan pada tubuh

Berbeda dengan jaringan lainnya seperti jaringan epitel, saraf dan otot, jaringan ikat memiliki fungsi utama melalui komponen extra selnya.

Baca Juga : Fungsi dan Jenis Sel Saraf

Ciri Ciri Jaringan Ikat

  • Jaringan ikat memiliki komponen seluler yang sedikit jika dibandingkan dengan substansi interselulernya.
  • Jaringan ikat memiliki letak sel yang tersebar, dengan komponen intraseluler yaitu matriks
  • Matriks tersusun dari mukopilisakaridasulfat dan asamihialuronat
  • Jaringan ikat memiliki bentuk sel yang tidak beraturan, sitoplasma bergranula dan intisel menggelembung
  • Letak sel jaringan ikat tidak berhimpit jika hanya berhubungan pada ujung protoplasmanya

Baca Juga : Anatomi Pita Suara Manusia 

Fungsi Jaringan Ikat

Jaringan penyokong, pengisi dan pengikat
Jaringan otot, jaringan epitel dan jaringan saraf merupakan salah satu jaringan yang dihubungkan oleh jaringan ikat / jaringan penyambung. Selain itu, jaringan ikat juga mengisi ruang diantara sel-sel. Tendo dan urat merupakan jaringan ikat yang menyokong atau penghubung antara jaringan otot dan tulang.

Pembungkus
Jaringan ikat juga membungkus jaringan lain yang biasanya berbentuk selaput atau kapsul yang mengelilingi organ tubuh, misalnya kapsula dan ginjal serta meninges yang membungkus otak.

Penyimpanan
Jaringan ikat kendur berfungsi menyimpan cadangan air dan elektrolit, khususnya ion Na+. Sepertiga bagian dari protein plasma tubuh disimpan dalam ruang-ruang intraseluler jaringan ikat.

Pertahanan
Jaringan ikat juga berperan dalam pertahanan pada komponen selulernya.

Respirasi
Jaringan ikat juga memiliki fungsi untuk meregenerasi jaringan ikat yang tingg dan memperbaiki jaringan yang mengalami kerusakan (luka). Luka pada jaringan ikat uang selnya tidak dapat membelah diri akan diisi oleh jaringan ikat dan membentuk parutan.

Transportasi
Antara kapiler darah, pembuluh darah dan jaringan ikat memiliki hubungan yang erat karena dihubungkan oleh jaringan ikat yang membawa nutrisi dari pembuluh darah ke jaringan lain.

Nutrisi
Matriks pada jaringan ikat berfungsi sebagai media dimana nutrien dan sampah metabolisme dipertukarkan antara sel-sel dan suplai darah yang mengandung zat-zat gizi.

Baca Juga: Fungsi, Ciri-ciri dan Cara Kerja Otot Polos

Sel Penyusun Jaringan Ikat

Jaringan ikat disusun oleh berbagai sel dan serabut, dibawah ini beberapa sel penyusun jaringan ikat antaralain:

Sel penyusun jaringan ikat, antaralain:

  • Fibroblas : protein penyusun matriks jaringan ikat
  • Leukosit : pertahanan terhadap benda asing
  • Makrofag : melakukan fagosit terhadap benda asing
  • Sel lemak : cadangan makanan
  • Sel mesenkim : sel embrional
  • Sel tiang/mast : menghasilkan heparin dan histamin
  • Sel plasma : sel penghasil antibodi
  • sel pigmen : sel mengandung pigmen

Serabut penyusun jaringan ikat, antara lain:

  • Serabut kolagen : memiliki warna putih kebiruan dengan elastisitas rendah
  • Serabut elastik : memiliki warna kekuning, tipis dengan elastisitas tinggi
  • Serabut retikuler : mirip kolagen namun lebih halus dan lebih tipis dengan berbentuk jala

Baca Juga : Sistem Otot Manusia

Jenis Jaringan Ikat

Secara umum, jaringan ikat terbagi menjadi 3 jenis yaitu jaringan ikat sejati, jaringan ikat cair dan jaringan ikat penyokong, berikut penjelasannya;

Jaringan ikat sejati

Jaringan ikat sejati terdiri dari jaringan ikat longgar dan jaringan ikat padat.

Jaringan ikat longgar memiliki komponen penyusun sel yang lebih banyak dibandingkan penyusun serabut/serat. Jaringan ikat longgar berfungsi membungkus organ tubuh, pembuluh darah dan saraf. Salah satu contoh jaringan ikat longgar yaitu mesenterium (selaput pembungkus organ dalam perut).

Jaringan ikat padat adalah jaringan ikat dengan komponen penyusun sel yang lebih sedikit dibandingkan dengan serabut/seratnya. Jaringan ikat padat terbagi dua, yaitu jaringan ikat padat teratur dan jaringan ikat padat tidak teraatur.

Jaringan ikat cair

Jaringan ikat cair terdiri dari jaringan darah dan limpa. Jaringan darah berfungsi dalam proses transportasi dan sistem kekebalan tubuh, sedangkan jaringan limpa berfungsi dalam sistem imunitas tubuh.

Jaringan ikat penyokong

Jaringan ikat penyokong merupakan jaringan yang berperan dalam pembentukan dan penyokong tubuh. Jaringan ikat penyokong terdiri dari tulang rawan dan tulang keras.

Jaringa tulang rawan tersusun dari sel kondrosit. Tulang rawan terbagi menjadi 3 macam, yaitu hialin, elastin dan fibrosa.

Jaringan tulang keras tersusun dari sel osteosit yang terdiri dari tulang kompak dan tulang berongga.

Baca Juga : Pengertian dan Fungsi Limpa

Demikian artikel mengenai Pengertian Jaringan Ikat Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan anda mengenai pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.

Categories
Biologi

Apa itu Limpa – Pengertian, Fungsi, Ciri dan Sistem Peredaran Limpa dengan Penjelasan Lengkap

Limpa atau getah bening merupakan organ dalam tubuh berukuran sebesar kepalan kecil yang berada dibagian sisi kiri perut. Lipa terletak dekat dengan perut dan pankreas yang merupakan organ memproduksi insulin atau hormon yang mengatur gula darah. Limpa terlindungi oleh tulang rusuk sehingga tidak langsung terasa ketika disentuh.

Limpa termasuk organ sistem kekebalan tubuh yang berfungsi menyimpan dan menghasilkan sel darah putih. Untuk mengetahui lebih lengkap tentang limpa, simak penjelasan dibawah ini tentang limpa, meliputi pengertian limpa, fungsi, ciri-ciri dan sistem peredaran limpa/getah bening.

Baca Juga : Pengertian Saraf Sensorik

Pengertian Limpa

Limpa atau getah bening merupakan limfoid terbesar dalam tubuh yang terletak diantara diafragma dan lambung berwarna ungu tua. Limpa adalah sebuah kelenjar tanpa saluran (dectless) yang berfungsi menghasilkan cairan dalam tubuh yang berhubungan erat dengan sistem transportasi dan berfungsi menghancurkan sel-sel darah merah yang sudah tua atau sel darah merah yang telah mati.

Sistem limpa termasuk organ dalam sistem peredaran darah. Sistem limpa terdiri dari cairan limpa, pembuluh limpa dan kelenjar limpa.

Cairan limpa mengandung sel darah putih yang berfungsi mematikan kuman penyakit yang masuk dalam tubuh. Cairan tersebut keluar dari pembuluh darah dan mengisi ruang antar sel laly membasahi seluruh jaringan tubuh. Pembuluh limpa memiliki banyak katup yang terdapat di semua jaringan tubuh kecuali sistem saraf pusat.

Baca Juga : Fungsi dan Jenis Sel Saraf

Fungsi Limpa

Limpa merupakan organ yang terletak dibagian perut bagian kiri atas, meskipun terletak di perut limpa tidak berperan dalam sistem pencernaan makanan. Limpa adalah organ yang berfungsi menjalankan peredaran darah dan sistem pertahanan tubuh, berikut beberapa fungsi limpa antara lain:

  • Limpa berfungsi sebagai tempat cadangan darah, limpa dapat membendung darah sehingga ketika tubuh mengalami pendarahan berat, limpa akan menyumpai darah tersebut.
  • Limpa mengatur siklus zat besi yang merupakan komponen sel darah merah.
  • Limpa berfungsi sebagai tempat penyimpanan sel monosit, yaitu komponen sel darah yang berfungsi penting untuk melawan kuman, bakteri dan zat asing yang masuk dalam tubuh.
  • Limpa berfungsi menghancurkan sel darah merah yang sudah tua atau yang sudah mati.

Baca Juga : Anatomi Pita Suara Manusia 

Ciri Ciri Limpa

Berikut ini beberapa ciri-ciri limpa, antara lain:

  • Sistem limpa berasal dari darah yang keluar dari pembuluh darah.
  • Limpa merupakan cairan berwarna kuning keputih-putihan akibat adanya kandungan lemak yang berasal dari usus.
  • Limpa tersusun dari satu sel yang disebut dengan limfosit.
  • Antibodi pembentuk sistem kekebalan tubuh pada limpa dibentuk oleh limfosit.
  • Cairan limpa memiliki kandungan protein yang lebih sedikit.
  • Cairan limpa memiliki kandungan lemak yang dihasilkan oleh usus.
  • Limpa memiliki banyak jumlah katup dan klep
  • Bagian ujung pembuluh limpa terbuka
  • Pada pembuluh limpa terdapat kelenjar limpa yang berfungsi menyaring dan mematikan kuman bibit penyakit yang dapat membahayakan tubuh.

Baca Juga: Fungsi, Ciri-ciri dan Cara Kerja Otot Polos

Sistem Peredaran Limpa / Getah Bening

Sistem peredaran getah bening (limpa) memiliki fungsi yang penting dalam sistem transportasi. Sistem peredaran limpa berkaitan erat dengan sistem peredaran darah. Sistem limpa terdiri dari cairan limpa, pembuluh limpa dan kelenjar limpa. Sistem peredaran limpa berfungsi dalam pengangkutan lemak dan pemberantasan penyakit. Berikut penjelasannya

Cairan Limpa

Cairan limpa mengandung sel-sel darah putih yang berfungsi mematikan kuman penyakit yang masuk dalam tubuh. Cairan limpa keluar dari pembuluh darah dan mengisi runag antar sel sehingga akan membasahi seluruh jaringan tubuh. Pembuluh limpa memiliki banyak katup dan ada diseluruh jaringan tubuh kecuali pada saraf pusat.

Pembuluh Limpa

Pembuluh limpa terletak di sela-sela otot dengan cabang-cabang halus dan dibagian ujung terbuka. Melalui bagian ujung inilah yang membuat cairan tubuh masuk ke dalam pembuluh limpa. Limpa memiliki struktur yang mirip dengan vena namun memiliki banyak katup. Pembuluh limpa dibagi menjadi 2, yaitu Pembuluh limpa kanan dan Pembuluh limpa kiri.

  • Pembuluh limpa kanan
    Pembuluh limpa kanan berfungsi menampung cairan limpa yang berasal dibagian kepala, leher kana, dada kanan dan lengan kanan. Pembuluh limpa kanan terletak pada vena atau tepatnya dibawah selangka kanan.
  • Pembuluh limpa kiri
    Pembuluh limpa kiri berfungsi menampung getah bening yang berasal dari daerah kepala, leher kiri, dada kiri dan lengan kiri dan tubuh bagian bawah. Pembuluh limpa kiri terletak pada vena bawah selangka kiri.

Kelenjar Limpa

Kelenjar limpa berfungsi menghasilkan sel darah putih dan berfungsi menjaga agar tidak terjadi infeksi lebih lanjut. Kelenjar limpa terletak di sepanjang pembuluh limpa terutama dibagian pangkal paha, ketiak, dan leher.

Kelenjar limpa berfungsi sebagai tempat penyimpanan sel darah, membunuh kuman penyakit, pembentukan sel darah putih dan antibodi, serta sebagai tempat pembongkaran sel darah merah yang sudah mati.

Baca Juga : Sistem Otot Manusia

Fungsi Sistem Peredaran Getah Bening

Sistem peredaran getah bening berfungsi sebagai sistem pertahanan tubuh
Serta berfungsi mengangkut kembali cairan tubuh, cairan plasma darah, sel darah putih yang terletak di luar pembuluh darah dan mengangkut lemak dari usus ke dalam sistem peredaran darah.

Demikian artikel mengenai Pengertian dan Fungsi Limpa. Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan anda mengenai pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.

Categories
Biologi

Saraf Sensorik – Pengertian, Jenis Rangsangan dan Gangguan Saraf Sensorik dengan Penjelasannya

Sel saraf sensorik merupakan saraf yang menghantarkan informasi rangsangan ke otak atau sumsum tulang belakang serta bertanggung jawab mengubah rangsangan ekternal dari lingkungan menjadi impuls listrik.

Saraf sensorik mampu merespon berbagai jenis rangsangan dari luar pada otot, sendi ataupun kulit. Rangsangan tersebut berupa sentuhan, suhu, tekanan, rasa sakit, gerakan, posisi tertentu atau gerakan. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang saraf sensorik, berikut ini kami akan membahas tentang sel saraf sensori, meliputi pengertian, jenis rangsangan dan gangguan saraf sensori dengan penjelasan terlengkap.

Baca Juga : Fungsi dan Jenis Sel Saraf

Pengertian Saraf Sensorik

sel saraf sensorik merupakan jenis sel yang berfungsi menghantarkan impuls dari reseptor ditubuh ke sistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang). Sel saraf sensorik sering disebut juga dengan sel saraf indra.

Saraf sensorik memiliki fungsi utama untuk menerima rangsangan dari luar tubuh untuk informasikan ke otak. Selanjutnya otak akan memberikan respon yang sesuai dengan rangsangan yang diberikan.

Secara umum, saraf sensorik berperan untuk membuat kita dapat mendengar, melihat, mengenal bau dan merasakan sesuatu secara fisik. Hal tersebut tergolong dalam sistem somatosensorik.

Dalam sistem somatosensorik, secara umum saraf sensorik berfungsi untuk merasakan rangsang sentuhan, rasa nyeri dan suhu, serta merasakan sentuhan halus dan kasar, tekanan, getaran, dan posisi tubuh,

Baca Juga : Anatomi Pita Suara Manusia 

Jenis Rangsangan Saraf Sensorik

Saraf sensorik merupakan jenis sistem saraf tepi atau perifer yaitu sistem saraf selain otak dan sumsum tulang belakang. Saraf sensorik bekerja secara sadar, sehingga rangsangan saraf dapat diketahui pemiliknya. Terdapat tiga jenis rangsangan dan peran saraf sensorik, yaitu:

Propriosepsi atau sensasi gerakan otot
Propriosepsi yaitu jenis saraf sensorik yang membantu tubuh sadar terhadap kepemilikan tubuhnya. Saraf ini berfungsi juga untuk mempertahankan postur tubuh dan mengendalikan gerakan.

Vestibular
Vestibula yaitu bagian saraf sensorik yang berhubungan dengan telinga bagian dalam. Vestibular berfungi membantu tubuh tetap seimbang dan memiliki koordinasi yang baik.

Interoception
Interoception yaitu kemampuan tubuh merasakan apa yang terjadi di dalamnya. Kemampuan ini membuat tubuh sadar akan beberapa sensasi seperti rasa lapar, dingin, panas, emosi, dsb.

Lima Indera
Adanya lima indera membuat tubuh dapat merasakan dan menartikan rasa, sentuha, bau, pendengaran, dan penglihatan.

Baca Juga: Fungsi, Ciri-ciri dan Cara Kerja Otot Polos

Gangguan pada Saraf Sensorik

Gangguan saraf sensorik atau sensory processing disorders (SPD) merupakan gangguan atau masalah yang terjadi pada penyampaian informasi dari saraf sensorik ke otak, sehingga menyebabkan otak tidak efektif dalam mencerna informasi.

Biasanya sensory processing disorders (SPD) bisa terjadi atau menyerang sejak usia anak-anak atau balita. Gangguan SPD dapat membuat seseorang merespon informasi sensorik lebih lambat, terlalu sensitif, tidak tepat hingga tidak merasa sama sekali. Dibawah ini beberapa gejala yang kerap terjadi pada SPD.

Gejala saraf sensorik terlalu sensitif

  • Sangat mudah terkejut dan panik
  • Tidak menyukai cahaya terang
  • Merasa lelah dan kewalahan dengan keberadaan orang atau tempat asing
  • Memiliki reaksi berlebihan pada suara, bau atau sentuhan
  • Menghindari kontak dengan orang lain

Gejala saraf sensorik kurang sensitif

  • Sering atau terlalu berlebihan saat menyentuh benda
  • Sering merasakan gelisah dengan menggerakkan tubuh
  • Tidak terkoordinasi dan berantakan
  • Toleransi rasa sakit yang tinggi

Namun, gejala-gejala diatas, biasanya hanya nampak samar atau nyata tergantung dari tingkat keparahan penyakit saraf yang dialami.

Baca Juga : Sistem Otot Manusia

Demikian artikel mengenai Pengertian Saraf Sensorik  Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan anda mengenai pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.

Categories
Biologi

Sel Saraf – Pengertian, Bagian-Bagian, Ciri-Ciri, Jenis dan Fungsi Sel Saraf dengan Penjelasannya

Sel saraf merupakan bagian penting dalam organ tubuh yang berperan untuk menghantarkan respon. Untuk mengetahui lebih lengkap tentang sel saraf, berikut ini kita akan membahas tentang sel saraf, meliputi pengertian sel saraf, bagian-bagian sel saraf, ciri-ciri sel saraf, jenis dan fungsi sel saraf dengan penjelasan terlengkap.

Baca Juga : Sistem Saraf Pada Hewan

Pengertian Sel Saraf

Sel saraf atau Neuron adalah sebuah satuan kerja dari sistem saraf yang berperan penting untuk menghantarkan impuls listrik yang terbentuk akibat adanya stimulus (rangsang). Sel saraf berjumlah jutaan dan dari jutaan sel saraf membentuk suatu sistem saraf. Sel tersebut berfungsi menghantarkan impuls (rangsangan) dari reseptor (panca indera) ke otak dan sebaliknya.

Neuron terdiri dari struktur dari berbagai jenis bagian-bagian sel saraf yang berfungsi dalam hal tertentu. Sel saraf memiliki struktur yang unik dan fungsional. Neuron memiliki kamampuan sebagai penghantar dan kemampuan eksisbilitas serta merespon rangsangan dengan sangat baik.

Suatu sel saraf terdiri dari satu badan sel yang memiliki sitoplasma dan nukleus (inti sel). Serta terdapat sel glia yang berfungsi sebagai suport sel saraf.

Sistem saraft terdiri dari sel-sel saraf yang disebut dengan neuron. Neuron bergabung untuk membentuk jaringan yang akan menghantarkan impuls (rangsangan). Satu sel saraf terdiri dari beberapa bagian, seperti badan sel, akson dan dendrit. Untuk lebih jelasnya dibawah ini merupakan bagian-bagian dari sel saraf.

Baca Juga : Anatomi Pita Suara Manusia 

Bagian Bagian Sel Saraf

Badan Sel

Badan sel adalah bagian terbesar dalam sel saraf yang memiliki banyak kandungan penting, seperti sitoplasma, nukleus (inti sel), dan nukleolus (Anak inti). Badan sel berfungsi menerima rangsangan yang berasal dari dendrit lalu meneruskan rangsangan tersebut ke akson (neurit).

Dendrit

Dendrit adalah percabangan dari badan sel yang muncul seperti tonjolan bercabang. Dendrit berfungsi menerima dna menghantarkan rangsangan yang berasal dari badan sel.

Akson (Neurit)

Akson (neutit) serabut sel saraf panjang yangmuncul dari badan sel. Akson mirip dengan dendrit hanya saja akson hanya ada satu buah dan memiliki ukuran lebih besar dan lebih panjang. Akson berfungsi menghantarkan stimulan yang berasal dari badan sel menuju efektof seperti sel kelenjar dan sel otot.

Inti Sel (Nukleus)

Inti sel saraf berfungsi untuk mengatur kegiatan sel saraf (neuron). Dalam inti sel terdapat kromosom dan DNA yang fungsinya untuk mengatur sifat keturunan dari sel tersebut.

Baca Juga: Fungsi, Ciri-ciri dan Cara Kerja Otot Polos

Selubung Mielin

Selubung mielin merupakan selaput pembungkus neurit yang mengandung banyak lemak dan bersegmen-segmen. Diantara segmen tersebut terdapat lekukan yang disebut dengan nodus ranvier. Selubung mielin dikelilingi oleh sel schwann, selain itu ada juga sel glial atau oligodendrosit yaitu sel yang memproduksi selubuh mielin. Selubung mielin berfungsi untuk melindungi neurit dari kerusakan dan mencegah impuls bocor.

Sel Schwann

Sel Schwann merupakan sel yang mengelilingi selubung mielin. Sel Schwann berfungsi menghasilkan lemak dan membungkus neurit berkali-kali hingga terbentuk selubung mielin. Sel schwann berfungsi mempercepat jalannya impuls, membantu menyediakan makanan untuk neurit dan membantu regenerasi neurit.

Nodus Ranvier

Nodus ranvier merupakan bagian neurit yang tidak terbungkus selubung mielin. Selubung mielin berfungsi membungkus dan melindungi akson, namun tidak membungkus seluruhnya, bagian yang tidak terbungkus tersebut adalah Nodus Ranvier. Fungsi utama nodus ranvier adalah sebagai loncatan yang mempercepat impuls saraf ke otak atau sebaliknya. Nodus ranvier memiliki diameter 1mm. Dengan adanya nodus ranvier maka memungkinkan saraf meloncat dari nodus satu ke nodus lain sehingga impuls dapat cepat sampai ke tujuan. Jika nodus ranvier terselungi oleh selubung mielin maka impuls saraf tidak dapat loncat ke nodus ranvier, hingga akhirnya tidak terjadi respon apapun.

Sinapsis

Sinapsis merupakan titik temu antara terminal akson salah satu neuron dengan neuron lain. Disetiap neuron, terminal akson akan membengkat membentuk tonjolan kecil yang disebut tombol sinapsis. Setiap sinapsis terdapat celah sinapsis. Sebuah sinapsis menyediakan koneksi antar neuron yang memungkinkan informasi sensorik mengalir diantara mereka. Kantong tersebut berisi zat kimia neurotransmiter. Neurotransmiter berupa neurotransmiter yang berfungsi menyampaikan impuls saraf pada sinapsis. Fungsi sinapsis adalah mengirimkan impuls dari aksin ke dendrit di sel saraf lain.

Baca Juga : Sistem Otot Manusia

Ciri-Ciri Sel Saraf

  • Sel saraf terdapat pada manusia dan hewan
  • Sel saraf saling ketergantungan antar struktur
  • Sel saraf mengirim rangsang dan menerima rangsang
  • Sel saraf memiliki inti sel atau nukleus
  • Sel saraf mengontrol aktivitas melalui otak dan sumsum tulang belakang

Jenis dan Fungsi Sel Saraf

Berdasarkans struktur dan fungsinya, sel saraf terbagi dalam 3 kelompok, yaitu sel saraf sensorik, sel saraf motorik dan sel saraf konektor/intermediet. Berikut penjelasannya:

Sel saraf sensorik

sel saraf sensorik merupakan jenis sel yang berfungsi menghantarkan impuls dari reseptor ditubuh ke sistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang). Sel saraf sensorik sering disebut juga dnegan sel saraf indra.

Sel saraf motorik

Sel saraf motorik berfungsi menghantarkan impuls dari sistem sel saraf pusat ke sel otot atau kelenjar sehingga tubuh akan menanggapi rangsangan dengan bergerak atau menghasilkan produk sekresi. Sel saraf motofik biasanya memiliki dendrit pendek dengan akson yang sangat panjang.

Sel saraf konektor

Sel saraf konektor berfungsi menghubungkan sel saraf motor dengan sel saraf sensori atau yang berhubungan dengan sel lain yang ada di dalam sistem saraf pusat. Serabut saraf, akso dan dendrit dari sel ini terhubung dengan satu selubung yang membentuk urat saraf, sedangkan badan sel berkumpul di satu tempat yang membentuk ganglion saraf.

Baca Juga : Mekanisme Kerja Otot Manusia

Berdasarkan Klasifikasinya, neuron (Sel saraf) diklasifikasikan menjadi 3, yaitu:

Neuron unipolar
Neuron unipolar memiliki satu tonjolan, lalu bercabang dua didekat badan sel. Satu cabang menuju perifer, dan cabang lain berjalan menuju ssp. Contohnya : neuron sensorik saraf spinal.

Neuron bipolar
Neuron bipolar memiliki beberapa dua tonjolan, yaitu satu akson dan satu dendrit. Contohnya sel batang dan kerucut retina.

Neuron multipolar
Neuron multipolar memiliki beberapa dendrit dan satu akson yang dapat bercabang banyak. Salah satu contoh sel ini yaitu neuron motorik yang berasa dari kornu ventral medula spinalis dengan akson yang menjulur hingga ke otot rangka.

Demikian artikel mengenai Fungsi dan Jenis Sel Saraf  Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan anda mengenai pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.

Categories
Biologi

Diafragma – Pengertian, Fungsi, Cara Kerja Dan Gangguan pada Diafragma dengan Penjelasan Terlengkap

Diafragma merupakan otot berbentuk seperti kubah yang terletak dibagian bawah paru-paru dan didasar rongga dada. Salah satu fungsi diafragma yaitu membantu proses pernapasan. Selain itu, diafragma juga memiliki beberapa fungsi lain yang tidak kalah penting. Ketika otot pada diafragma mengalami masalah, maka kinerja tubuh akan ikut terganggu. Untuk mengetahui lebih lengkap tentang diafragma, berikut ini kami akan jelaskan secara lengkap tentang pengertian diafragma, fungsi, cara kerja dan gangguan pada diafragma lengkap dengan penjelasannya.

Baca Juga : Organ Sistem Pernapasan Manusia 

Pengertian Diafragma

Diafragma adalah sebuah otot berbentuk seperti kubah yang memisahkan rongga dada dengan rongga perut.Diafragma (thoracic diaphragm) merupakan otot yang terletak dibagian dasar internal skeletal diantara rongga dada dan rongga perut yang berperan penting dalam proses pernapasan.

Saat diafragma berkontraksi dengan volume rongga dada akan membesar dan udara akan masuk ke paru-paru. Sedangkan saat diafragma dalam keadaan rileks maka volume paru-paru akan mengecil dan menghembuskan udara. Salah satu fungsi diafragma yaitu sebagai organ yang membantu sistem pernapasan manusia.

Baca Juga : Bagian-Bagian Hidung dan Fungsinya

Fungsi Diafragma

  • Para proses menarik napas, diafragma akan mengencang sehingga memudahkan oksigen masuk ke paru-paru.
  • Saat mengehembuskan napas, diafragma akan mengendur dan meningkatkan tekanan udara dalam rongga dada untuk mendorong udara keluar.
  • Diafragma juga berfungsi untuk mengatur gerak otot ketika sedang batuk atau muntah, hingga mengejan ketika buang air besar atau melahirkan.
  • Diafragma berfungsi meningkatkan tekanan otot dibagian rongga perut yang memunculkan refleks batuk, muntah atau mengejan.
  • Diafragma berfungsi mencegah asam lambung mengalir balik ke kerongkongan atau disebut refleks asam lambung.

Baca juga : Pengertian dan Jenis Sendi

Cara Kerja Diafragma

Pada proses inspirasi atau ketika menarik napas, maka diafragma secara otomatis berkontraksi dan bergerak ke bawah, lalu akan mengembang sesuai dengan volume udara yang masuk ke dalam tubuh. Kontraksi pada diafragma membuat rongga dada menjadi lebih luas sehingga pada proses inhalasi dapat berjalan dengan lancar. Perluasan rongga tersebut menyebabkan munculnya tekanan negatif yang memperkuat kekuatan dari hisapan udara yang masuk ke paru-paru.

Gangguan Kesehatan Pada Diafragma

Berikut ini beberapa gangguan kesehatan yang menyebabkan masalah pada diafragma, antara lain:

Cegukan
Cegukan terjadi akibat diafragma mengalami kejang sementarara sehingga menyebabkan aliran napas yang masuk berhenti tiba-tiba di penutupan pita suara (glottis).

Penyebab cegukan bisa jadi akibat makan terlalu cepat, makan kekenyangan atau minum minuman bersoda terlalu cepat. Umumnya, cegukan dapat mereda sendiri tanpa harus minum obat, namun kondisi cegukan menyebabkan rasa tidak nyaman.

Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi cegukan adalah sengan minum air putih sedikit demi sedikit dan menahan napas sebentar, minum air pelan-pelan, menahan napas sebentar, menggigit lemon atau dengan menarik kaki ke arah dada dan bersandar condong kedepan untuk menekan dada.

Baca Juga : Pengertian dan Fungsi Usus Halus

Kelumpuhan diafragma
Kelumpuhan diafragma bisa terjadi sebagian atau seluruhnya akibat adanya kerusakan pada saraf yang mengatur otot-otot pernapasan, termasuk otot diafragma. Ketika satu sisi otot mengalami kelumpuhan, maka dapat menghambat proses pernapasan yang dapat menyebabkan penderita mengalami gagal untuk bernapas.

Hiatal hernia
Hiatal hernia merupakan kondisi bagian perut atas terdorong ke bagian bukaan diafragma akibat peningkatan tekanan diperut atau obesitas maupun kehamilan. Hiatal hernia juga bisa juga disebabkan akibat kebiasaan mengejan terlalu keras atau akibat mengangkat benda berat serta batuk. Hiatal hernia dapat menyebabkan kenaikan asam lambung yang jika dibiarkan dapat menyebabkan komplikasi pada perut dan tenggorokan.

Hernia diafragmatik
Hernia diafragmatik merupakan kelainan yang ditandai dengan adanya lubang pada bagian diafragma yang menyebabkan organ perut lolos masuk ke rongga dada. Hernia diafragmatik disebabkan akibat kelainan genetok atau akibat trauma fisik seperti kecelakaan lalu lintas, tembakan atau akibat pukulan benda tumpul.

Baca Juga : Pengertian dan fungsi Trakea

Demikian artikel mengenai Pengertian dan fungsi Diafragma  Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan anda mengenai pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.

Categories
Biologi

Trakea – Pengertian, Struktur, Anatomi dan Fungsi Trakea pada Sistem Pernapasan Manusia LENGKAP

Trakea merupakan bagian dari organ sistem pernapasan berbentuk pipa tabung yang berfungsi untuk menyalurkan udara yang masuk ke bronkus dan alveolus serta menyaring debu yang terdapat di udara.

Trakea memiliki bentuk seperti pipa tabung dengan diameter sekitar 20-25 mm, serta panjang sekitar 10-16cm, yang tersusun atas 20 tulang rawan berbentuk cincin yang kuat dan fleksibel. Letak trakea yaitu setelah laring, sebelum bronkus yang bersebelahan dengan esofagus.

Untuk mengetahui lebih jelas tentang trakea, berikut ini akan kami jelaskan secara lengkap tentang pengertian trakea, struktur dan anatomi trakea serta fungsi trakea pada sistem pernapasan manusia dengan penjelasan terlengkap.

Baca Juga : Pengertian Laring dan Fungsinya

Pengertian Trakea

Trakea atau batang tenggorokan adalah organ bagian dari sistem pernapasan berbentuk pipa tabung berdiameter 20-25mm dan panjang 10-16cm. Trakea berbentuk panjang yang tersusun dari 20 tulang rawan berbentuk cincin yang kuat, tapi fleksibel.

Trakea terletak bersampingan dengan esofagus setelah laring dan sebelum bronkus. Trakea berfungsi untuk menyalurkan udara yang masuk ke bronkus dan alveolus serta menyaring debu atau kotoran yang ada di dalam udara.

Baca Juga : Organ Sistem Pernapasan Manusia 

Struktur Trakea

Jaringan tulang rawan
Trakea tersusun dari 16-20 tulang rawan hialin berbentuk “C”. Bagian dari tulang rawan “C” terletak dibagian posterior yaitu bagian yang bersebelahan dengan esofagus. Bagian dalam tulang rawan terdapat lamina propia yang berisi jaringan ikat dan otot.

Jaringan Epitel
Jaringan epitelium pada trakea berupa epitel silindris bersilia. Sel-sel epitel di lapisan tersebut menghasilkan lendir maupun mukus yang menjalankan fungsi proteksi.

Jaringan ikat
Lapisan lamina propia yang berada dibagian dalam tulang rawan merupakan sekumpulan sel-sel jaringan ikat yang berfungsi sebagai penghubung antara jaringan satu dengan jaringan lainnya. Terdapat juga ligamentum yang berfungsi untuk menghubungkan antar tulang rawan berbentuk “C” pada trakea.

Jaringan otot
Jaringan otot pada trakea adalah otot polos yang terdapat dibagian terbuka pada bentuk “C” tulang rawan yang menyusun organ trakea. Fungsi otot polos pada trakes yaitu berkaitan dengan pergerakan pernapasan dan mengakomidasi dalam mekanisme batuk maupun tersedak.

Baca Juga : Bagian-Bagian Hidung dan Fungsinya

Anatomi Trakea

Trakea merupakan saluran pernapasan berbentuk pipa yang terdiri dari tulang rawan dan otot yang dilapisi oleh pseudostratified columnar cilliated epithelium (epitel PCC). Sepertiga bagian trakea terletak di leher dan lainnya berletak di mediastinum.

Trakea memiliki panjang sekitar 10cm pada wanita dan panjang cm pada pria. Memiliki diameter anterior-posterios rata-rata mm, diameter transversal 18mm.

Trakea memanjang mulai dari bawah laring, setinggi vertebra sevikalis 6 hingga vertebra torakalis 4.

Trakea terbagi menjadi dua bronkus, yaitu bronkus utama kanan dan kiri.

Bagian cincin trakea yang terletak dibagian paling bawah akan meluas ke inferior dan posterior diantara bronkus utama kanan dan kiri yang membentuk sekat lancip yang disebut karina.

Trakea bersifat elastis, yaitu panjang dan letaknya dapat ebrubah-ubah tergantung pada posisi kepala dan leher.

Lapisan tulang rawan pada trakea dibentuk oleh 16-2- tulang rawan hialin berbentuk cincin yang tidak penuh dan terbuka dibagian posterior (c-shaped cartilage).

Baca juga : Pengertian dan Jenis Sendi

Fungsi Trakea

Trakea memiliki fungsi yang cukup beragam, berikut ini beberapa fungsi trakea, antara lain:

Menyaring benda asing
Trakea memiliki fungsi untuk menangkap partikel benda asing dan bakteri yang terhirup, agar paru-paru tetap terjaga. Pada trakea terdapat sel globet yang memproduksi lendir dan menahan benda asing, bakteri dan virus agar tidak mauk ke paru-paru. Sedangkan silia (rambut halus pada trakea) berperan membawa benda asing yang berbahaya bagi paru-paru ke atas menuju mulut agar tidak dapat ditelan.

Membantu batuk
pada saat batuk, otot-otot trakea akan berkontraksi untuk mempersempit lumen trakea agar udara dapat mengalir lebih cepat melalui trakea saat keluar. Karena hal tersebut, kita dapat batuk dengan kuat sehingga lendir dan partikel debu dapat keluar.

Mengirim udara ke paru-paru
Trakea berfungsi untuk mengirim udara ke paru-paru dan menghangatkan serta melembabkan udara yang masuk ke paru-paru.

Membantu sistem pencernaan
Bentuk cincin pada tulang rawan dapat memungkinkan trakea menghasilkan ruang besar bagi kerongkongan agar dapat berkembang sehingga memungkinkan kita lebih mudah menelan makanan.

Baca Juga : Pengertian dan Fungsi Usus Halus

Demikian artikel mengenai Pengertian dan fungsi Trakea  Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan anda mengenai pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.

Categories
Biologi

Laring – Pengertian, Fungsi, Bagian-Bagian Laring, Anatomi Laring dengan Penjelasannya

Laring memiliki peranan yang sangat penting dalam sistem pernapasan dan proses pembentukan suara pada manusia. Laring termasuk organ leher yang melindungi trakea dan berfunsgi penting dalam memproduksi suara. Laring juga berperan sebagai saluran penghubung antar pangkal rongga mulut dan trakea.

Tidak hanya memproduksi suara, laring juga berperan penting dalam membantu proses menelan dan respirasi. Jika bagian laring terganggu dapat berdampak bahaya pada kesehatan. Untuk mengetahui informasi lebih jelas tentang laring, berikut ini merupakan penjelasan tentang pengertian laring, fungsi laring, bagian-bagian laring, anatomi laring dan gangguan penyakit yang dapat menyerang laring.

Baca Juga : Organ Sistem Pernapasan Manusia 

Pengertian Laring

Laring adalah saluran berbentuk tabung tak beraturan yang terletak di antara faring dan trakea atau di bagian pangkal lidah dan trakea. Hal inilah yang membuat otot dan ligamen mengikat Tulang Rawan membentuk Struktur Laring.

Laring terdiri dari dua bagian yaitu epiglotis dan pita suara.

Epiglotis adalah bagian laring yang berbentuk menjulur kearah faring. Epiglotis tersusun dari tualng rawan yang elastis dengan sel-sel pipih dan silindris yang berbatasan dengan trakea.

Pita suara adalah bagian laring yang tersusun dari tulang rawan hialin yang terletak dibawah epiglotis. Hal ini yang membuat ligamen vokal tersusun dari jaringan serat elastin yang tegangangta diatur oleh otot lurik. Ketika udara melewati tegangan ligamen, maka akan membentuk getaran yang menghasilkan suara. Pita suara dibagi menjadi 2, yaitu pita suara palsu dan pita suara asli.

Pita suara palsu terbentuk dari pasangan pita suara bagian atas yang dilapisi oleh kelenjar mukosa dan lapisan epitel bersilia. Sedangkan pita suara asli sejati terbentuk dari pasangan tulang rawan bagian bawah yang dapat membentuk suara.

Baca Juga : Bagian-Bagian Hidung dan Fungsinya

Anatomi Laring

Laring terletak setinggi vertebra cervicalis IV – V, namun pada anak-anak dan wanita cenderung terletak lebih tinggi. Umumnya, laring selalu terbuka dan tertutup ketika menelan makanan saja.

Letak laring bisa ditentukan dari inspeksi dan palpasi. Kartilagi tiroid pada pria dewasa cenderung lebih menonjol kedepan atau disebut Jakun.

Laring tersusun dari tiga kartilago besar yang tidak berpasangan, yaitu cricoid, thyroid, epiglottis, dan tiga kartilago kecil berpasangan, yaitu: arytenoids, corniculate, cuneiform. selain itu, laring juga tersusun dari sejumlah otot intrinsik.

Baca juga : Pengertian dan Jenis Sendi

Fungsi Laring

Menelan
Salah satu fungsi penting dari laring adalah untuk mengalirkan makanan masuk ke tenggorokan. Pada saat menelan, gerakan mundur lidah akan memaksa epiglotis untuk menutupi glotis agar makanan tidak masuk ke paru-paru. Laring juga bergerak ke atas dan ke depan untuk membuka kerongkongan. Dengan begitu makanan dapat masuk dengan lancar.

Penghubung faring dan trakea
Laring merupakan penghubung faring dan trakea, sehingga ketika mulut menelan makanan maka epiglotis yang berada di laring akan menutup sehingga makanan tidak masuk ke trakea namun masuk ke esofagus.

Melindungi tabung trakea
Fungsi lainnya dari laring yaitu untuk melindungi tabung trakea. Epiglotis yang terletak dibagian pangkal laring berfungsi melindungi masuknya makanan ata minuman yang masuk pada saat sedang makanan. Secara otomatis epiglotis akan menutup trakea ketika ada makanan yang masuk sehingga tabung pernapasan akan menutup.

Mendorong makanan masuk ke esofagus
Laring juga berfungsi untuk mendorong makanan masuk ke esofagus sehingga ketika ingin menelan makanan dengan otomatis epiglotis yang berada di laring akan menutup sehingga makanan akan masuk langsung ke esofagus. Dengan demikian maka sauran dalam tubuh akan terlindungi dari beberapa zat makanan yang akan masuk.

Menghasilkan suara
Didalam laring terdapat pita suara yang berfungsi penting pada proses pembentukan suara. Beberapa organ menghasilkan suara seperti paru-paru, laring, faring, tenggorokan, rongga mulut dan rongga hidung.

Baca Juga : Pengertian dan Fungsi Usus Halus

Demikian artikel mengenai Pengertian Laring dan Fungsinya  Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan anda mengenai pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.

Categories
Biologi

Pita Suara Manusia – Pengertian, Fungsi dan Jenis Pita Sura Lengkap dengan Penjelasannya

Pita suara adalah bagian penting dalam sistem kerja tubuh manusia yang dapat membuka dan menutup bibir serta mengeluarkan suara dengan artikulasi yang berbeda-beda. Pita suara berfungsi untuk menghasilkan suara yang memiliki pengaruh sangat besar pada manusia untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Untuk mengetahui lebih lengkap tentang pita suara, berikut ini akan kami berikan ulasan lengkap tentang pengertian pita sura, fungsi dan jenis pita sura dengan penjelasan terlengkap.

Baca juga : Pengertian dan Jenis Sendi

Pengertian Pita Suara

Pita suara adalah bagian organ laring yang berfungsi penting untuk menghasilkan ucapan. Pita suara akan bergetar ketika kita mengeluarkan udara yang berasal dari paru-paru yang menyebabkan terjadinya penurunan tekanan.

Hal tersebut yang menyebabkan adanya jenis suara yang berbeda-beda. Seperti nada rendah berasal dari otot laring yang meregang, nada tinggi berasal dari otot-otot yang meregang.

Suara terdiri dari pita suara untuk berbicara. Organ pita suara merupakan bagian produksi suara yang menjadi sumber utama dari suara. Jadi dapat diartikan suara adalah mekanisme dalam menghasilkan suara dalam tiga bagian yaitu paru-paru, pita suara di laring dan artikulator.

Cara kerja pita suara yaitu organ paru-paru memompa udara dan menghasilkan aliran yang mencukupi dan menekan udara untuk menggetarkan dari pita suara. Ketika katup bergetar, pita suara akan memotong aliran udara yang berasal dari paru-paru hingga menjadi pulsa suara yang nantinya akan membentuk suara dalam laring. Otot-otot pada laring akan menyesuaikan ketegangan dan panjang pita untuk menghaluskan nada.

Baca Juga : Pengertian dan Fungsi Usus Halus

Fungsi Pita Suara

Pita suara memiliki fungsi yang cukup penting bagi kehidupan manusia, berikut ini beberapa fungsi pita suara, antara lain:

1. Mengeluarkan suara
Pita suara merupakan instrumen penting dalam pembentukan suara manusia. Pita suara memiliki ketebalan yang berbeda-beda, karena itulah setiap orang memiliki suara yang berbeda-beda. Terjadinya suara akibat udara yang keluar dari dalam paru-paru yang akan menggetarkan ligamen yang ada disekitar pita suara. Getaran tersebut kemudian diteruskan pada pita suara sehingga ikut bergetar. Getara dari pita suara itulah selanjutnya diperbesar oleh bagian mulut dan hidung.

2. Mencegah tersedak
Pita suara memiliki letak yang cukup dekat dengan epiglotis karena itulah, pita suara juga berfungsi untuk mencegah kemungkinan terjadinya tersedak. karena pada saat menelan makanan, epiglotis akan melipat dan menutup saluran trakea. Pada saat pelipatan tersebut, pita suara ikut melihat. Gerakan pelipatan pita sura disebut dengan imobilitas lipatan vokal.

Inilah sebabnya, kita dilarang berbicara ketika sedang makan karena dapat mengganggu pusat saraf yang menyebabkan kemungkinan epiglotis dan pita suara tidak tertutup sempurna yang mengakibatkan makanan masuk kedalam saluran pernapasan yang menimbulkan tersedak.

3. Mengatur aliran udara
Pada fungsi ini pita suara berhubungan erat dengan epiglotis dan beberapa organ lain dalam laring. Proses ini menyesuaikan jumlah udara yang masuk dan keluar dari dalam paru-paru. Di proses ini terdapat tiga jenis gerak utama yang digunakan untuk mengatur aliran udara, yaitu:

  • Imobilitas lipat vokal yaitu ketika pita suara tidak terbuka dengan baik
  • Unilateral imobilitas lipat vokal yaitu ketika hanya salah satu bagian dari pita suara tidak bergerak dengan normal.
  • Bilateral imobilitas lipat vokal yaitu ketika kedua bagian dari pita sura tidak berfungsi dan bekerja dengan normal.

Ketiga kondisi diatas merupakan salah satu faktor pengaruh masuknya udara dalam paru-paru.

Baca Juga : Fungsi dan Anatomi Usus Besar

Jenis Pita Suara

Manusia memiliki jenis suara yang berbeda-beda yang berasal dari pengaruh tebal dan tipisnya pita suara, berikut ini beberapa jenis pita suara, anatara lain:

Pita suara tipis
Jenis pita sura tipis menghasilkan suara bernada tinggi atau suara yang keluar dari bagian atas. Kekurangan dari pita suara tipis yaitu memiliki nada suara rendah.

Pita suara tengah
Pita suara tengah menghasilkan suara dengan nada sedang dengan range nada tidak terlalu rendah dan tidak terlalu tinggi. Range suara jenis pita suar atengah memiliki jangkauan suara yang lebar. Kekurangan dari jenis pita suara tengah yaitu pada nada yang tinggi atau rendah.

Pita suara tebal
Jenis pita suara tebal menghasilkan suara unik yang terkesan besar atau bass, biasanya cukup menjadi suara yang berkarakter jika dimiliki oleh penyanyi.

Pita suara elastis
Jenis pita suara elastis banyak dimiliki oleh penyanyi karena jenis sura ini mampu menjangkau nada tinggi dan nada rendah. Hal ini karena jenis pita suara ini memiliki sifat elastis seperti mampu menebal dan menipis dengan sendirinya.

Baca Juga : Pengertian dan Fungsi Pankreas

Demikian artikel mengenai Pengertian Pita Suara Manusia. Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan anda mengenai pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.

Categories
Biologi

Pengertian Ligamen – Struktur, Fungsi, Jenis dan Cedera pada Ligamen dengan Penjelasannya

Ligamen merupakan jaringan pita yang tersusun dari serabut-serabut yang berfungsi untuk menghubungkan tulang satu dengan tulang lainnya pada sendi. Ligamen bersifat elastis yang mengikat luar ujung tulang yang saing membentuk persendian, membantu rentang gerak dan menstabilkan agar tulang bisa bergerak dengan baik.

Tanpa adanya ligamen, antara tulang satu dengan tulang lainnya tidak dapat menyatu dan tidak dapat melakukan pergerakan ketika otot berkontraksi. Untuk mengetahui lebih lengkap tentang ligamen, berikut ini kami akan jelaskan tentang pengertian ligamen, struktur, fungsi, jenis, mekanisme dan cedera ligamen dengan penjelasannya.

Baca juga : Pengertian dan Jenis Sendi

Pengertian Ligamen

Ligamen adalah jaringan serabut berbentuk pita yang berfungsi menghubungkan antar tulang satu dengan tulang lainnya pada sendi. Ligamen merupakan sebuah pita jaringan elastis yang mengikat luar ujung tulang yang saling membentuk persendian, mengontrol rentang gerak dan menstabilkan agar tulang dapat bergerak dengan baik.

Tanpa adanya ligamen, antara tulang satu dengan tulang lainnya tidak dapat menyatu dan tidak dapat melakukan pergerakan ketika otot berkontraksi. Meskipun bisa, namun gerakan yang ditimbulkan tidak akan sempurna.

Ligamen dapat memiliki elastisitas yang tinggi, dapat memperpanjang dan mengubah bentuk ketika terletak dalam ketegangan dan kembali ke bentuk aslinya ketika ketegangan mereda. Kecuali pada ligament ovarium, ligament putaran rahim, dan ligament suspensorium ovarium.

Baca Juga : Pengertian dan Fungsi Usus Halus

Struktur Ligamen

Ligamen adalah jaringan ikatan dengan komponen-komponen biomekanik yang unik. Ligamen digambarkan sebagai pita padat jaringan ikat kolagen.

struktur ligamen terdiri dari protein kolagen yang berbentuk panjang, fleksibel, dan berbentuk seperti serat dan benang. Serat kolagen banyak ditemukan di tubuh manusia dan mamalia lainnya. Adanya serat kolagen tersebut membuat kulit menjadi elastis dan membentuk sebagian besar jaringan ikat.

Sifat elastis pada kulit membuat kulit dapat meregang pada saat tubuh melakukan gerakan seperti lipat dan sebagainya.

Serat kolagen pada ligamen sering diatur dengan pola persimpangan yang mencegah sendi tubuh bergerak melebihi batas kewajarannya.

Baca Juga : Fungsi dan Anatomi Usus Besar

Fungsi Ligamen

Fungsi ligamen yaitu penyatuan stabilisasi struktur anatomi yang ditemukan di antara tulang dan tulang rawan organisme yang membentuk sendi. Berbeda dengan tendon yang menghubungkan otot dengan tulang, ligamen saling menghubungkan tulang yang berdekatan satu sama lain yang berfungsi dalam sistem otot langka.

Didalam sendi, ligamen memungkinkan serta memfasilitasi gerakan dalam arah anatomi alami, membatasi gerakan-gerakan yang anatomis tidak normal, mencegah cedera atau tonjolan yang dapat timbul dari gerakan tersebut.

Lebih singkatnya, fungsi ligamen yaitu:

  • Menstabilkan ujung sambungan
  • Membimbing gerakan
  • Memfasilitasi informasi propriseptif dengan mengirimkan informasi melalui ujung saraf ke sistem saraf pusat.

Baca Juga : Pengertian dan Fungsi Pankreas

Jenis Ligamen

Berdasarkan jenis sendinya, ligamen ada dua jenis yaitu ligamen artikular dan ligamen suspensor.

  • Ligamen artikular adalah jenis ligamen yang menggabungkan dua kepala tulang dari sendi, contohnya ligamen lutut dan ligamen bahu.
  • Ligamen suspensor adalh jenis ligamen yang secara fisiologis menyimpan organ dalam tertentu di tempat asalnya. Contohnya ligamen pada kandung kemih dan rahim.

Berdasarkan letaknya, ligamen ada dua jenis, yaitu Ligamentum multisegmental dan Ligamen segmental.

  • Ligamentum multisegmental merupakan jenis ligamen yang dibentuk oleh ligamentum longitudinal anterior, ligamentum longitudinal posterior, dan ligamentum supraspinatus.
  • Ligamen segmental merupakan jenis ligamen yang dibentuk oleh ligamentum interspinous, ligamentum kuning, ligamentum intertransversa, ligamentum iliolumbar (lumbosacral).

Baca Juga : Pengertian dan Fungsi Pankreas

Cedera Ligamen

Ligamen memiliki ikatan yang resisten, sedikit elastis sehingga menyebabkan banyak cedera akibat ekstensi yang berlebihan, ruptur total atau ruptur parsial, biasanya cedera pada ligamen lutut akibat ekstensi berlebihan atau akibat pecahnya ligamen yang bersilangan, umumnya terjadi pada atlet seperti di ligamen kaki atau ligamen di sendi tibiotarsal akibat keseleo.

Ketika cedera lutut terjadi, cara pengobatannya yaitu dengan melumpuhkan area tersebut agar cedera tidak bertambah parah. Salah satu gejala yang berkaitan dengan kerusakan ligamen seperti kemerahan, memar, bengkak, gerak terbatas dan lain-lain.

Baca Juga : Fungsi Lambung

Demikian artikel mengenai Pengertian Ligamen. Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan anda mengenai pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.

Categories
Biologi

Apa Itu Sendi – Pengertian, Jenis, Struktur dan Penyakit dengan Penjelasan Terlengkap

Tubuh manusia memiliki struktur kompleks yang terhubung melalui tulang rawan, otot, ligamen (jaringan pengikat sendi), dan jenis-jenis sendi. Namun kali ini kita akan membahas tentang sendi.

Sendi merupakan bagian tubuh sebagai tempat terhubungnya dua tulang atau lebih yang berfungsi penting untuk tubuh. Sendi berfungsi untuk menghubungkan dua tulang, memberi struktur, dan membantu otot menggerakkan tulang. Terdapat 3 jenis sendi yang menghubungkan tulang-tulang manusia, yaitu sendi sinartrosis, amfiartrosis, dan diartrosis.

Sendi memiliki peranan yang sangat penting dalam rangka tubuh manusia. Untuk mengetahui lebih jelas tentang sendi, berikut ini kita akan membahas lengkap tentang pengertian sendi, anatomi sendi, fungsi sendi, penyakit pada sendi dan penjelasan terlengkap.

Baca Juga : Pengertian dan Fungsi Usus Halus

Pengertian Sendi

Pengertian sendi adalah penghubung antar tulang atau sebagai tempat dua tulang/lebih bertemu. Sendi berfungsi memastikan kerangka tubuh tetap menyatu dan dapat bergerak bebas. Tulang dalam tubuh dihubungkan oleh tulang rawan dan ligamen. Dalam tubuh manusia terdapat cairan yang disebut cairan sinovial, yaitu cairan yang berfungsi menyerap syok dan memungkinkan tulang dan sendi melakukan gerakan halus. Seseorang rentan mengalami gangguan sendi ketika salah satu bagian tersebut terganggu.

Baca Juga : Fungsi dan Anatomi Usus Besar

Jenis Jenis Sendi

Berdasarkan pergerakannya, sendi dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:

  • Sendi mati (sinartrosis), yaitu sendi yang tidak dapat bergerak, contoh sendi pada tulang tengkorak.
  • Sendi kaku (amfiartrosis), yaitu sendi yang masih bisa digerakkan meskipun gerak terbatas. Contohnya sendi pada tulang antarruas tulang belakang dan tulang rusuk.
  • Sendi gerak (diartrosis), yaitu sendi yang dapat digerakkan secara leluasa/bebas.

Berdasarkan arah gerakannya, sendi dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:

  • Sendi engsel (hinge), yaitu sendi yang memungkinkan terjadi pergerakkan satu arah saja.
  • Sendi geser (plane), yaitu sendi yang memungkinkan terjadi gerakan antar tulang satu menggeser yang lainnya. Contohnya sendi pada ruas tulang belakang.
  • Sendi gulung (condylar), yaitu sendi yang memungkinkan tubuh untuk melakukan gerak rotasi pada poros dengan gerakan terbatas. Contoh hubungan antar tulang hasta dan pengumpil.
  • Sendi pelana (saddle), yaitu sendi yang mampu bergerak kesamping dan depan serta membuat gerakan dua arah. Contohnya sendi penala yaitu sendi di bagian tulang pangkal ibu jari.
  • Sendi peluru (ball and socket), yaitu sendi yang dapat bergerak ke segala arah dengan bentuk mirip bila dan tulang seperti mangkok. Contohnya seperti sendi yang menghubungkan antar tulang atas dan gelang bahu.
  • Sendi putar (pivot), yaitu salah satu sendiyang gerakan salah satu ujungnya mengitari atau membuat gerakan berputar di bagian ujung tulang lain. Sendi putar tersebutlah yang membuat kepala dapat berputar. Contoh sendi antara tulang tengkorak dan atlas.

Baca Juga : Pengertian dan Fungsi Pankreas

Struktur Sendi

Sendi terdiri dari beberapa bagian atau struktur, yaitu:

  • Bursa
    Bursa adalah kantung berisi cairan yang menjadi bantalan pada gesekan yang terjadi karena adanya gerakan.
  • Cairan sinovial dan membran
    Cairan sinovial adalah struktur yang melapisi sendi dan menyegelnya dalam kapsul. Cairan sinovial memungkan pelumasan pada sendi untuk menghasilkan gerakan halus.
  • Ligamen
    Ligamen adalah karet gelang yang terbuat dari jaringan bertekstur alot yang mengelilingi sendi dan menghubungkan antar tulang.
  • Tendon
    Tendon adalah jaringan ikat yang melekat di sendi dan tulang untuk otot-otot disekitarnya untuk mengendalikan gerakan.
  • Tulang rawan
    Tulang rawan adalah jaringan yang menutupi permukaan tulang yang berfungsi mengurangi gesekan saat tulang-tulang pasa sendi bergerak.

Baca Juga : Fungsi Lambung

Gangguan Kesehatan pada Sendi

Berikut ini beberapa gangguan kesehatan yang kerap terjadi pada sendi, antara lain:

Autoimun
Gangguan autoimun yang biasanya terjadi adalah artritis reumatoid. Pada saat mengalami gangguan sendi, maka sistem kekebalan tubuh akan terjadi kerusakan pada tulang rawan dan jaringan ikat akibat kehilangan tekstur halus yang menjadi kasar.

Gangguan sistem imum menyebabkan tulang rawan akan melemah. Obat yang bisa digunakan untuk mengatasi gangguan imun yaitu obat-obatan yang dapat mengontrol respon sistem imun dan mengurangi peradangan.

Degeneratif
Degeneratif merupakan gangguan sendi yang umum terjadi, contohnya dislokasi, keseleo, atau kerusakan sendi lainnya. Cara mengatasi masalah tersebut yaitu dengan beristirahat, atau dengan mengompres bagian tersebut dengan menggunakan es untuk mengurangi pembengkakan. Cara ini untuk mempercepat proses penyembuhan.

Infeksi
Sendi juga mengalami infeksi akibat peradangan yang dapat terjadi pada tubuh dan sendi. Gangguan sendi akibat infeksi seperti septic infeksi di sendi berupa artritis dan Lyme artritis.

Lyme artritis disebabkan akibat infeksi bakteri akibat gigitan kutu. Infeksi tersebut menimbulkan gejala seperti flu, ruam dan kelelahan. Infeksi tersebut terjadi akibat bakteri masuk ke dalam tubuh dan melakukan perjalan ke sendi yang menimbulkan kerusakan jaringan.

Inflamasi
Inflamasi merupakan masalah sendi akibat pola makan yang kurang sehat, akibat luka atau infeksi. Kondisi tersebut menyebabkan sendi menjadi nyeri, merah dan bengkak. Gangguan inflamasi tersebut seperti encok, psoriasis artritis, dan artritis enteropati (penyakit Crohn).

Baca Juga : Bagian-Bagian Hidung dan Fungsinya

Demikian artikel mengenai Pengertian dan Jenis Sendi. Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan anda mengenai pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.